Posted by
Fauzya Harahap
Aug 26, 2011
"Bromo, Bromo, Bromo..." Itu yang terus ada dibenak saya saat memutuskan untuk pergi kesana. Ya, baru-baru ini saya dan beberapa rekan backpackers pergi mengunjungi gunung Bromo. Oleh: Fadly Molana
TheJourney Begins
Setelah melalui mekanisme yang cukup panjang, kami semua sepakat bertemu di Stasiun Senen Jakarta sebagai meeting point. Total 12 orang termasuk saya mulai berangkat pada pukul 12.30 WIB menggunakan kereta Gaya Baru Malam.
Perjalanan kami memakan waktu 16 jam. Karena kereta yang kami tumpangi melalui jalur Selatan memang memiliki rute terpanjang dari Jakarta menuju Surabaya. Walaupun demikian, perjalanan kami cukup menyenangkan. Dalam perjalanan ini pula kami saling mengenal satu sama lainnya.
Sekitar pukul 05.00 WIB kami akhirnya tiba di Stasiun Wonokromo, Surabaya. Kami menyempatkan diri untuk membersihkan diri dan sholat Subuh. Setelah itu kami mencari mobil sewaan yang mau mengantar menuju Bromo. Setelah mobil kami dapatkan, seakan sudah tidak sabar kami langsung menuju tempat tujuan. Sepanjang jalan saya merasa takjub dengan perubahan yang terjadi pada kota Surabaya. Maklum saja, sewaktu kecil saya pernah menetap di kota ini. Jadi bisa dibilang, perjalanan kami ke Bromo dengan melewati Surabaya adalah perjalanan napak tilas bagi saya pribadi.
Mobil kami melaju dengan kecepatan tinggi, setinggi harapan kami untuk secepatnya melihat gunung Bromo. Selepas dari kota Surabaya, di sisi kiri jalan kami melihat tumpukan tanah yang meninggi dengan batu-batu sebagai fondasinya. Akhirnya kami baru menyadari bahwa kami sedang melewati jalan yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi sangat terkenal di media massa, yaitu Jalan Raya Porong, Sidoarjo yang terkenal dengan luapan lumpurnya. Ingin hati untuk berhenti dan melihat suasana di atas sana, namun karena hari masih pagi, kami tidak diperbolehkan untuk masuk. Akhirnya kami hanya bisa melihat tanggul-tanggul penahan luapan lumpur yang telah menyengsarakan ribuan orang tersebut.
Selepas dari Sidoarjo, kami memasuki Pasuruan. Di kota ini kami berhenti sejenak untuk mengisi perut yang sedari pagi sudah meminta untuk diisi. Lalu kami berhenti di sebuah rumah makan kecil bernama Nasi Punel. Saya sedikit bertanya-tanya, jenis makanan apa nasi punel. Ternyata nasi punel tidak jauh berbeda dengan nasi campur atau nasi rames, dengan daging empal sebagai menu utamanya. Nasi yang dibungkus daun pisang ini terasa sangat nikmat. Tidak salah kalau presenter Wisata Kuliner, Bondan Winarno pernah datang ke rumah makan kecil ini. Hal tersebut terlihat dari foto-foto Bondan yang menempel di dinding rumah makan. Selepas mengisi perut, kami melanjutkan perjalanan menuju Probolinggo. Tak disangka perjalanan dari Pasuruan menuju Probolinggo memakan waktu hampir 2 jam. Waktu tersebut kami manfaatkan dengan beristirahat karena memang kami cukup lelah.
Perennial Waterfall
Memasuki Probolinggo, kami tidak langsung menuju penginapan yang sudah kami booking sebelumnya. Dari pertigaan Sukapura, kami mengarah menuju air terjun Madakaripura. Jalan yang kami lalui menanjak dan berkelok sampai di ujung jalan memasuki gerbang wisata air terjun. Masyarakat setempat percaya bahwa Madakaripura merupakan tempat terakhir Patih Gajah Mada bertapa sebelum akhirnya menghilang secara misterius. Mitos tersebut dilengkapi dengan patung Gajah Mada yang sedang duduk bersila memperlihatkan keperkasaannya.
Dengan ditemani dua orang guide kami berjalan memasuki hutan untuk menuju air terjun Madakaripura. Sekitar 15 menit berjalan akhirnya kami sampai pada air terjun yang dijuluki Air Terjun Abadi (Perennial Waterfall). Sungguh takjub saya melihat air terjun ini. Perpaduan antara kontur bukit dan air yang turun membuat kami semua enggan untuk beranjak. Namun memang ada sedikit kekurangan. Airnya tidak jernih, bahkan terlihat kecoklatan. Menurut guide kami, sehari sebelumnya di area ini terjadi hujan besar yang mengakibatkan air terlihat keruh. Namun hal tersebut tak menyurutkan kami yang tetap takjub dengan keindahan alam ini.
Satu jam kami habiskan di sana sebelum melanjutkan perjalanan menuju Desa Ngadisari. Sekitar pukul 13.00 kami tiba di penginapan. Walaupun hari masih siang, udara dingin sangat menusuk tulang. Di penginapan kami menghabiskan waktu dengan bercengkrama dan beristirahat karena dini hari kami sudah harus bangun untuk menuju gunung Bromo.
Bromo Mountain
Pukul 02.00 dini hari kami sudah bersiap-siap untuk menuju Penajakan, tempat dimana kami dapat melihat sunrise di titik tertinggi Bromo. Dua buah jeep yang disediakan oleh pihak penginapan mengantarkan kami tepat pukul 03.00. Sekitar 40 menit kami melalui jalan padang pasir yang gelap dan tanjakan dengan tikungan yang tajam. Sesampainya di Penanjakan rupanya sudah banyak wisatawan yang juga ingin menyaksikan sunrise. Karena di sini pukul 05.00 matahari sudah terbit.
Tidak jarang saya melihat wisatawan asing yang juga berkunjung ke gunung Bromo. Ketika matahari terbit, puluhan bahkan ratusan blitz kamera mulai menyala. Semua ingin mengabadikan momen tersebut. Sunrise di Bromo kali ini sangat langka, karena kami berada disana tepat pada 10 Oktober 2010, tanggal langka yang hanya terjadi sekali seumur hidup.
Sekitar pukul 06.00 kami kembali menuju jeep yang akan mengantarkan kami menuju kawah Bromo. Sesampainya disana kami disuguhi pemandangan padang pasir yang luas dengan berlatar belakang pura dan gunung Bromo. Kami pun menaiki Bromo menuju kawahnya yang mengeluarkan asap putih tebal. Butuh usaha ekstra bagi kami menaiki gunung tersebut. Bukan karena tingginya gunung tersebut, melainkan stamina kami yang sudah terkuras. Namun usaha kami menaiki gunung Bromo terbayar lunas ketika sudah sampai di atas. Kawah yang terlihat jelas, kepulan asap putih yang tebal, beserta pemandangan yang indah membuat siapapun akan takjub terkesima. Pukul 09.00 kami sudah kembali ke jeep karena kami harus mengejar kereta menuju Jakarta pada sore harinya.
Sesampainya di penginapan, kami bergegas membereskan barang-barang dan langsung menuju Surabaya pada pukul 10.30. Disepanjang perjalanan pulang kami lebih sering tidur karena memang stamina sudah habis. Bahkan kami tidak sempat makan siang karena takut tertinggal kereta yang tiketnya sudah di tangan. Sesampainya di Sidoarjo kami masuk tol untuk mempercepat perjalanan. Kembali saya terkesima dengan pembangunan di Kota Surabaya, karena seingat saya 20 tahun yang lalu Surabaya belum memiliki jalan tol. Mobil kami keluar di tol dan langsung menuju Stasiun Pasar Turi. Kami pun cukup lega karena kereta yang akan kami tumpangi baru akan berangkat pada pukul 15.30. Waktu kosong tersebut kami manfaatkan untuk makan siang di depan stasiun.
Trip Completed
Akhirnya, pada pukul 15.30 kereta Kertajaya jurusan Surabaya-Jakarta pelan-pelan mulai meninggalkan Surabaya. Namun tidak serta-merta meninggalkan kenangan kami terhadap keindahan Madakaripura dan kemegahan Bromo. Kereta yang kami tumpangi kali ini melalui jalur utara, sehingga lebih cepat sampai di Jakarta.
Pukul 06.00 kami sudah tiba di Jakarta. Stasiun Senen menjadi tempat bertemu dan berpisah dalam trip kali ini. Sungguh sebuah perjalanan yang singkat namun amat berkesan dan tentunya, karena kami adalah backpacker, perjalanan ini ber-budget minim. Dan julukan The Low Cost Traveller pun makin melekat pada diri kami.
“written by: Fadly Molana”