Posted by
Fauzya Harahap
Jun 7, 2011
Suatu bacaan yang ringan, jenaka, dan menyegarkan. Jika Kicau Kacau disimpulkan sedemikian rupa, mungkin penulisnya akan sedikit kesal. Tidak. Salah besar. Ini kekacauan. Ini kegalauan. Ini kebenaran. Mungkin.
Sebagian besar tulisan dalam buku ini berasal dari kolom yang diasuh penulis di suatu majalah gaya hidup, disertai dengan sejumlah artikel yang dimuat di berbagai media. Proses pembuatan buku ini dikabarkan hanya memakan waktu beberapa bulan, dan hanya dalam 20 hari, sudah terjual habis dan dicetak ulang.
Tema utama pada buku ini antara lain mengenai gaya hidup, cinta, kota Jakarta, Indonesia serta keluarga. Indra Herlambang, yang juga seorang selebritas televisi tanah air, mengakui bahwa Kicau Kacau sejatinya adalah sekumpulan curahan hati pribadi. Keseharian seorang jejaka tigapuluhan melatari setiap kisah: berolahraga di gym, (terlalu tua untuk) pergi ke disko, atau ketika menempuh perjalanan pulang di dalam taksi. Sekelumit kekacauan rasa ini pun lalu dibungkus dan dipitakan rapi sebagai suatu antologi.
Dengan Kicau Kacau, Indra Herlambang tidak berusaha mengarang suatu karya sastra. Walaupun begitu, nyatanya buku ini adalah suatu karya sastra populer yang menciterakan suatu masa. Masa dimana keberadaan diri dipatut-patutkan di depan cermin jaman. Tentu saja diramaikan oleh keponakan tersayang, Obama, dan hantu-hantuan.
Tetapi kacau? Galau? Penulis belum berani menyentuh sisi gelap tersebut dari kehidupan. Buku ini terlalu “menghibur” untuk dikatakan sebagai guratan kacau kegalauan. Jika Anda mencari suatu pengisahan urban noir, buku ini sudah pasti bisa Anda lewatkan.
Kicau Kacau adalah buku bagi Anda yang menyukai hal-hal sederhana. Hal-hal sederhana yang seharusnya tetap sederhana. Namun, tak berarti yang sederhana tidak dapat diperkaya oleh makna. Meskipun dengan gaya penulisan yang jahil, Indra Herlambang tetap membuat para pembaca termenung-menung dengan pesan kehidupan yang terselip di setiap cerita.
Barangkali seperti yang dikatakan penulis di salah satu bab, “Aren’t we all trapped in our little ‘prisons’? Jobs, relationships, daily routines. If we can’t break free, it’s time to decorate them.” Kicau Kacau, seperti vodka teh hijau, kunci rumah, dan kepingan-kepingan jiwa, adalah suatu hiasan yang terpajang dengan manis di dinding penjara tersebut.
“written by: Marissa Duma”